Bagaimana PT Chitose Membangun Brand? Insight yang Dipelajari Mahasiswa Ilmu Komunikasi INABA dari Visit Industri

 


Brand sering dianggap sekadar logo dan promosi, Padahal brand yang kuat justru lahir dari konsistensi nilai, dan cara perusahaan berkomunikasi dengan pasarnya. PT Chitose Internasional Tbk memberi contoh nyata. Perusahaan ini tidak agresif di media sosial, namun tetap bertahan, tumbuh, dan menguasai pasar furnitur tertentu selama puluhan tahun. Bagi anak muda yang tertarik pada dunia komunikasi, marketing, dan branding, Chitose menarik untuk dibedah. Bukan karena gimmick. Tapi karena pendekatannya rasional, terukur, dan berorientasi hasil. Ini relevan bagi siapa pun yang sedang mempertimbangkan kuliah komunikasi, membangun karier komunikasi, atau memahami praktik branding komunikasi di dunia nyata, khususnya di konteks komunikasi Bandung.


PT Chitose Internasional Tbk berdiri sejak 1979. Nama Chitose berarti seribu tahun. Maknanya jelas. Perusahaan ini tidak dibangun untuk viral sesaat, tetapi untuk bertahan lama. Filosofi ini tercermin dalam setiap keputusan bisnisnya. Saat banyak brand fokus mengejar exposure, Chitose fokus pada reliability. Mereka memposisikan diri di industri furnitur sebagai produsen yang dapat dipercaya oleh institusi besar. Pemerintah, sekolah, rumah sakit, dan korporasi menjadi pasar utama. Posisi ini strategis, kebutuhan stabil, volume besar, keputusan pembelian berbasis spesifikasi dan reputasi, bukan tren.


Saat ini, Chitose memiliki lebih dari 400 varian produk. Angka ini bukan sekadar variasi. Ini merupakan tanda bahwa chitose memahami kebutuhan pasar yang beragam dan spesifik. Termasuk hal kecil tapi krusial, seperti memproduksi kursi khusus untuk pengguna kidal. Dari perspektif manajemen komunikasi, ini bentuk mendengar konsumen secara konkret, bukan asumsi.

 

Brand Chitose tidak dibangun lewat klaim kosong. Ada delapan value utama yang konsisten dikomunikasikan melalui produk dan layanan.

Pertama, garansi. Ini pesan kepercayaan. Brand yang berani memberi garansi menunjukkan keyakinan pada kualitasnya.

Kedua, after sales service. Chitose tidak berhenti saat produk terkirim. Mereka menyediakan layanan desain ruangan, perakitan, hingga penataan furnitur. Dari sudut pandang public relations, ini membangun hubungan jangka panjang, bukan transaksi satu kali.

Ketiga, best quality. Klaim ini didukung oleh proses produksi dan kontrol mutu yang ketat.

Keempat, SNI. Standar nasional ini penting, terutama untuk pasar government. Sertifikasi adalah bahasa kepercayaan di sektor ini.

Kelima, ergonomis. Ini menjawab kebutuhan kesehatan dan kenyamanan pengguna jangka panjang.

Keenam, ramah lingkungan. Nilai ini relevan dengan kesadaran global, meski Chitose tidak mengemasnya secara berlebihan.

Ketujuh, TOP Brand. Pengakuan pasar memperkuat positioning mereka.

Kedelapan, TKDN. Tingkat Komponen Dalam Negeri menjadi nilai strategis dalam tender pemerintah.

 

Delapan value ini bukan slogan. Ini kerangka branding komunikasi yang konsisten dan mudah diterjemahkan ke dalam pesan marketing.

 

Banyak brand terjebak pada asumsi bahwa marketing harus selalu online dan masif. Chitose membuktikan sebaliknya. Fokus utama mereka adalah business to government dan business to business. Artinya, keputusan marketing diarahkan pada relasi, reputasi, dan pemenuhan kebutuhan spesifik klien. Pendekatan ini logis dan dasarnya jelas, siklus pembelian panjang dengan nilai transaksi besar. Di sini, komunikasi tatap muka, presentasi proposal, dan kredibilitas brand jauh lebih penting dibanding viral reach.

 

Namun, Chitose tidak menutup diri dari digital. Mereka tetap mengunggah konten media sosial secara konsisten dua kali seminggu. Tujuannya bukan omzet langsung, tetapi brand awareness. Ini keputusan sadar. Manajemen menempatkan media sosial sebagai pendukung, bukan penggerak utama.

Dari perspektif branding komunikasi, ini contoh prioritas yang sehat. Tidak semua kanal harus dipaksakan memberi konversi. Ada kanal yang berfungsi menjaga eksistensi dan relevansi.

Salah satu pelajaran penting dari Chitose adalah konsistensi. Mereka memiliki 22 distributor dan sekitar 850 agen.

Produk yang diterima klien sesuai janji, layanan purna jual berjalan, standar kualitas terjaga. Dalam manajemen komunikasi, ini disebut alignment antara pesan dan realitas. Banyak brand gagal karena komunikasi tidak sejalan dengan pengalaman pelanggan. Chitose justru membangun reputasi melalui kesesuaian itu.

 

Chitose memberi gambaran nyata tentang apa yang dipelajari di kuliah komunikasi dan prodi komunikasi. Branding tidak berdiri sendiri. Ia terhubung dengan marketing, operasional, dan strategi bisnis. Public relations di Chitose tidak hanya soal publisitas, tapi menjaga kepercayaan institusi. Manajemen komunikasi terlihat dalam cara mereka mengelola relasi distributor, agen, dan klien pemerintah. Branding komunikasi hadir dalam konsistensi nilai yang diterjemahkan ke produk dan layanan. Bagi yang mempertimbangkan karier komunikasi, ini membuka perspektif. Karier tidak selalu berarti bekerja di agensi atau media. Ada ruang besar di industri manufaktur, BUMN, dan perusahaan B2B yang membutuhkan komunikator strategis.

Chitose mengekspor produknya ke 34 negara. Ini menandakan bahwa brand mereka dapat diterima lintas budaya. Menariknya, mereka tidak mengubah identitas secara drastis untuk pasar global. Kualitas, fungsi, dan reliability tetap menjadi narasi utama.

Dalam konteks komunikasi Bandung sebagai kota pendidikan dan industri kreatif, Chitose menunjukkan bahwa brand lokal bisa berpikir global tanpa kehilangan jati diri.

Pendekatan branding dan marketing seperti yang dilakukan Chitose tidak selalu cocok untuk semua brand. Ini penting disadari. Chitose bermain di pasar yang sudah jelas, stabil, dan sangat spesifik, government dan institusi besar tidak mencari yang viral. Mereka mencari yang aman dan bisa dipertanggungjawabkan.

 

Jika pendekatan ini diterapkan ke brand yang masih baru atau bermain di pasar anak muda yang cepat berubah, hasilnya bisa berbeda. Brand baru butuh visibilitas cepat. Butuh cerita yang lebih emosional. Chitose tidak berada di fase itu. Mereka sudah melewati tahap membangun awareness dasar sejak puluhan tahun lalu. Justru di sinilah letak kedewasaan strategi mereka. Chitose tahu siapa pasarnya. Mereka tahu kapan harus bicara keras dan kapan cukup hadir secara konsisten. Ini pelajaran penting dalam dunia komunikasi. Strategi yang baik bukan yang paling ramai, tapi yang paling sesuai dengan tujuan.

Meski Chitose terlihat konservatif, pola pikir di balik strateginya sangat relevan. Banyak anak muda ingin terjun ke dunia komunikasi karena tertarik dengan media sosial dan konten. Itu wajar. Tapi dunia komunikasi jauh lebih luas.

Di Chitose, komunikasi hadir dalam bentuk mendengarkan kebutuhan klien, menerjemahkannya ke produk, lalu menjaga hubungan jangka panjang. Contohnya sederhana, mereka bersedia membuat kursi khusus untuk pengguna kidal, ini bukan soal desain semata. Ini soal empati dan respons.

Komunikasi seperti ini jarang terlihat di feed, tapi dampaknya nyata. Seperti klien merasa diperhatikan, kepercayaan tumbuh, repeat order terjadi.

Brand Chitose kuat karena konsistensi internalnya. Nilai seperti kualitas, ergonomi, dan layanan purna jual tidak hanya dikomunikasikan ke luar, tapi dijalankan di dalam perusahaan.

 

Dalam praktik manajemen komunikasi, ini krusial. Brand akan runtuh jika janji tidak sejalan dengan pengalaman. Chitose menghindari jebakan itu dengan menjaga proses produksi, distribusi, dan layanan tetap selaras.

Dengan 22 distributor dan sekitar 850 agen, menjaga konsistensi jelas tidak mudah. Tapi justru di situ peran komunikasi menjadi strategis. Bukan sekadar promosi, tapi penghubung antara visi perusahaan dan realitas lapangan.

Cerita Chitose membuka mata bahwa karier di dunia komunikasi tidak selalu berada di depan kamera atau balik layar media sosial. Kemampuan menjelaskan produk secara jelas, menyusun pesan yang meyakinkan, dan menjaga kepercayaan klien adalah keterampilan komunikasi inti. Ini dibutuhkan di industri furnitur, manufaktur, hingga sektor publik.

Bagi yang tertarik dengan kuliah komunikasi, pendekatan seperti ini memberi gambaran realistis. Dunia kerja tidak selalu glamor. Tapi justru di situ stabilitas dan dampak jangka panjang terbentuk.

 

PT Chitose Internasional Tbk membangun brand dengan cara yang tenang dan konsisten. Mereka tidak mengejar perhatian, tapi menjaga kepercayaan. Marketing mereka fokus pada relasi dan kebutuhan nyata pasar. Komunikasi mereka hadir lewat kualitas, layanan, dan kesesuaian janji dengan pengalaman.

Bagi generasi muda, ini pengingat penting. Dunia komunikasi bukan soal seberapa sering kita muncul, tapi seberapa tepat kita berbicara dan bertindak. Brand yang kuat lahir dari keputusan yang jujur, strategi yang sadar, dan komunikasi yang dijalankan, bukan sekadar diucapkan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cecuruk Bambu sebagai Fondasi Rumah Masyarakat Bajo

Anak Ilmu Komunikasi Cuma Ngomong? Intip Kegiatan Anak Komunikasi Universitas INABA!

Meriahnya Farewell Ilkom INABA 2025, Acara Perayaan Kelulusan Mahasiswa INABA Prodi Komunikasi